Keutamaan Menahan Marah
Oleh Ust.Abdurrohim
Diantara
maksud dan tujuan disyariatkannya puasa adalah latihan menahan nafsu
amarah (suka marah). Orang yang mampu menahan marah lebih baik dan
lebih sempurna daripada orang yang suka marah (pemarah). Dan itulah
yang disebut orang kuat.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam
bersabda : “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi
orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat lain, disebutkan hadits dari Ibnu Mas’ud
Radliyallahu ‘anhu Rasulullah bersabda : “Siapa yang dikatakan paling
kuat diantara kalian ? Shahabat menjawab : yaitu diantara kami yang
paling kuat gulatnya. Beliau bersabda : Bukan begitu, tetapi dia adalah
yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.” (HR. Muslim)
Al
Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i , bahwa Rasulullah
Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mampu menahan
marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari
kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana
yang mereka mau.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan)
Al Imam Ahmad juga
meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi
wasallam bersabda : “Tidaklah hamba meneguk tegukan yang lebih utama di
sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dari meneguk kemarahan karena mengharap
wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Hadits shahih riwayat Ahmad)
Al
Imam Abu Dawud rahimahullah mengeluarkan hadits secara makna dari
shahabat Nabi, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
“Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Subhanahu wa
Ta’ala kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memenuhi baginya keamanan
dan keimanan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan)
Hadits-hadits ini
menerangkan keutamaan menahan marah dari pada orang yang mudah
marah/pemarah. Dari itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam
berwasiat kepada sahabat ketika datang pada beliau untuk meminta
wasiat, beliau bersabda dengan diulang-ulang : “Jangan mudah marah..”
Lengkap haditsnya adalah sebagai berikut :
“Dari Abu Hurairah
Radliyallahu ‘anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shalallahu
alaihi wasallam : berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan
menjadi seorang pemarah. Kemudian diulang-ulang beberapa kali. Dan
beliau bersabda : janganlah menjadi orang pemarah” (HR. Bukhari)
Al
Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari seseorang dari
shahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam dia berkata : “ Aku berkata :
Ya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiatlah kepadaku. Beliau
bersabda : jangan menjadi pemarah. Maka berkata seseorang : maka aku
pikirkan apa yang beliau sabdakan, ternyata pada sifat pemarah itu
terkumpul seluruh kejelekan.” (HR. Imam Ahmad)
Berkata Ibnu Ja’far bin Muhammad rahimahullah : “Marah itu pintu seluruh kejelekan.”
Al Imam Ahmad menafsirkan hadits ini dengan mengatakan : akhlak yang mulia itu dengan meninggalkan sifat pemarah.
Al
Imam Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan maksud hadits ini dengan
mengatakan : sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam : “Jangan
menjadi pemarah.” Ini mengandung dua kemungkinan maksud :
1.Hadits
ini mengandung perintah melakukan sebab-sebab yang menjadikan akhlak
yang mulia seperti bersikap lembut, pemalu, tidak suka mengganggu,
pemaaf, tidak mudah marah.
2.Hadits ini mengandung larangan
melakukan hal-hal yang menyebabkan kemarahan, mengandung perintah agar
sekuat tenaga menahan marah ketika timbul/berhadapan dengan penyebabnya
sehingga dengan demikian dia akan terhindar dari efek negatif sifat
pemarah.
Sehingga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mangajarkan
cara-cara menghilangkan kemarahan dan cara menghindari efek negatifnya,
diantaranya adalah:
1. Membaca ta’awudz ketika marah.
Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim rahimakumullah meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin Surod Radliyallahu ‘anhu :
“Ada
dua orang saling mencela di sisi Nabi Shalallahu alaihi wasallam dan
kami sedang duduk di samping Nabi Shalallahu alaihi wasallam . Salah
satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai
memerah wajahnya. Maka Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan
hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan :
‘Audzubillahi minasy Syaithani rrajiim. Maka mereka berkata kepada yang
marah tadi : Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan nabi? Dia
menjawab : Aku ini bukan orang gila.”
2. Dengan duduk
Apabila dengan ta’awudz kemarahan belum hilang maka disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri.
Al
Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar
Radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
“Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.”
Hal
ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan
kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan
berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.
3. Tidak bicara
Diam
tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk
menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah
tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela
dan membahayakan dirinya dan orang lain.
Dalam hadits disebutkan :“Apabila diantara kalian marah maka diamlah.” Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)
4. Berwudlu
Sesungguhnya
marah itu dari setan. Dan setan itu diciptakan dari api maka api itu
bisa diredam dengan air, demikian juga sifat marah bias diredam dengan
berwudlu.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
”Sesungguhnya
marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu
diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah.”
(HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan)
Adapun pemicu
kemarahan ada empat, barangsiapa yang mampu mengendalikan maka Allah
Subhanahu wa Ta’ala akan dijaga dari syetan dan diselamatkan dari
neraka.
Berkata Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah :
“Empat
hal, barangsiapa yang mampu mengedalikannya maka Allah akan menjaga
dari syetan dan diharomkan dari neraka : yaitu seseorang mampu
menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah.”
Empat
hal ini yaitu keinginan, cemas, syahwat dan marah merupakan pemicu
seluruh kejelekan dan kejahatan bagi orang yang tidak mampu
mengendalikan nafsunya.
1. Keinginan, adalah kecondongan nafsu pada
sesuatu yang diyakini mendatangkan manfaat pada dirinya, seringnya
orang yang tidak mampu menguasai nafsu akan berusaha sekuat tenaga
untuk mendapatkan keinginannya itu dengan segala cara walaupun harus
dengan cara harom, dan terkadang yang diinginkan juga berupa sesuatu
yang haram.
2. Cemas, adalah rasa takut dari sesuatu. Orang yang
cemas akan berupaya untuk menolaknya dengan segala cara walaupun harus
dengan cara harom seperti meminta perlindungan kepada selain Allah.
3.
Syahwat, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini dapat
memuaskan nafsunya. Seringnya orang yang kalah dengan nafsunya
memuaskan nafsu syahwatnya itu pada sesuatu yang haram seperti zina,
mencuri, minum khamer bahkan pada sesuatu yang menyebabkan kekufuran,
kebid’ahan dan kemunafikan.
4. Marah, adalah gelagaknya darah hati
untuk menolak gangguan sebelum terjadi atau untuk membalas gangguan
yang sudah terjadi. Kemarahan seringnya dilakukan dalam bentuk
perbuatan yang diharamkan seperti pembunuhan, pemukulan dan berbagai
kejahatan yang melampaui batas. Terkadang dalam bentuk perkataan yang
diharamkan seperti tuduhan palsu, mencela dan perkataan keji lainnya
dan terkadang meningkat sampai pada perkataan kufur.
Tetapi tidak
semua kemarahan itu tercela, ada yang terpuji , bahkan sampai pada
tingkatan harus marah yaitu ketika kita melihat agama Allah direndahkan
dan dihinakan, maka kita harus marah karena Allah terhadap pelakunya.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah jika celaan
hanya tertuju pada pribadinya dan beliau sangat marah ketika melihat
atau mendengar sesuatu yang dibenci Allah maka Beliau tidak diam,
beliau marah dan berbicara.
Ketika Nabi Shalallahu alaihi wasallam
melihat kelambu rumah Aisyah ada gambar makhluk hidupnya (yaitu gambar
kuda bersayap) maka merah wajah Beliau dan bersabda :
“Sesungguhnya
orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang
membuat gambar seperti gambar ini.” (HR. Bukhari Muslim)
Nabi
Shalallahu alaihi wasallam juga marah terhadap seorang sahabat yang
menjadi imam shalat dan terlalu panjang bacaannya dan beliau
memerintahkan untuk meringankannya. Tetapi Rasulullah Shalallahu alaihi
wasallam tidak pernah marah karena pribadinya.
Al Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Anas radhiyallahu anhu :
“Anas
membantu rumah tangga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam selama 10
tahun, maka tidak pernah beliau berkata kepada Anas : “ah”, sama
sekali. Beliau tidak berkata terhadap apa yang dikerjakan Anas :
“mengapa kamu berbuat ini.” Dan terhadap apa yang tidak dikerjakan
Anas,”Tidakkah kamu berbuat begini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitulah
keadaan beliau senantiasa berada diatas kebenaran baik ketika marah
maupun ketika dalam keadaan ridha/tidak marah. Dan demikianlah
semestinya setiap kita selalu diatas kebenaran ketika ridha dan ketika
marah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : artinya :
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu berbicara yang benar ketika marah dan ridha.” (Hadits shahih riwayat Nasa’i)
Al Imam Ath Thabari rahimahullah meriwayatkan hadits Anas :
“Tiga
hal termasuk akhlak keimanan yaitu : orang yang jika marah kemarahannya
tidak memasukkan ke dalam perkara batil, jika senang maka kesenangannya
tidak mengeluarkan dari kebenaran dan jika dia mampu dia tidak
melakukan yang tidak semestinya.”
Maka wajib bagi setiap muslim
menempatkan nafsu amarahnya terhadap apa yang dibolehkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala, tidak melampaui batas terhadap apa yang dilarang
sehingga nafsu dan syahwatnya menyeret kepada kemaksiatan, kemunafikan
apalagi sampai kepada kekafiran.
Kesempatan baik ini untuk melatih
diri kita menuju sifat kesempurnaan dengan menghilangkan sifat pemarah
dan berupaya menjadi orang yang tidak mudah marah.
Rasulullah
Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Bukanlah puasa itu sekedar
menahan makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu (adalah puasa) dari
perbuatan keji dan sia-sia. Apabila ada orang yang mencelamu atau
membodohimu maka katakanlah : sesungguhnya aku sedang berpuasa,
sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Huzaimah dengan sanad
shahih)
Wallahu a’lam bishawab.
(Dikutip dari artikel
Keutamaan Menahan Marah, ditulis oleh ustadz Abdurrahim, Malang.
Dikirim via Email oleh Akhi Khudori, Malang dan edit oleh redaksi.
Sumber www.darussalaf.or.id)
Keutamaan Menahan Marah
Page generated in 0.0070137978 secondsTOP 1 Oli Sintetik Mobil-Motor Indonesia