Keutamaan Menahan Marah

http://bp0.blogger.com/_U67QDMLHRWE/RoIYwdbDFlI/AAAAAAAAAGY/a6cJUtV9wfo/s320/jangan_marah.jpg

Oleh Ust.Abdurrohim

Diantara maksud dan tujuan disyariatkannya puasa adalah latihan menahan nafsu amarah (suka marah). Orang yang mampu menahan marah lebih baik dan lebih sempurna daripada orang yang suka marah (pemarah). Dan itulah yang disebut orang kuat.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, disebutkan hadits dari Ibnu Masud Radliyallahu anhu Rasulullah bersabda : Siapa yang dikatakan paling kuat diantara kalian ? Shahabat menjawab : yaitu diantara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda : Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah. (HR. Muslim)
Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Jubai , bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau. (HR. Ahmad dengan sanad hasan)
Al Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Tidaklah hamba meneguk tegukan yang lebih utama di sisi Allah Subhanahu wa Taala, dari meneguk kemarahan karena mengharap wajah Allah Subhanahu wa Taala. (Hadits shahih riwayat Ahmad)
Al Imam Abu Dawud rahimahullah mengeluarkan hadits secara makna dari shahabat Nabi, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Subhanahu wa Taala kecuali Allah Subhanahu wa Taala akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan. (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan)
Hadits-hadits ini menerangkan keutamaan menahan marah dari pada orang yang mudah marah/pemarah. Dari itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiat kepada sahabat ketika datang pada beliau untuk meminta wasiat, beliau bersabda dengan diulang-ulang : Jangan mudah marah.. Lengkap haditsnya adalah sebagai berikut :
Dari Abu Hurairah Radliyallahu anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam : berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan menjadi seorang pemarah. Kemudian diulang-ulang beberapa kali. Dan beliau bersabda : janganlah menjadi orang pemarah (HR. Bukhari)
Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari seseorang dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam dia berkata : Aku berkata : Ya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan menjadi pemarah. Maka berkata seseorang : maka aku pikirkan apa yang beliau sabdakan, ternyata pada sifat pemarah itu terkumpul seluruh kejelekan. (HR. Imam Ahmad)

Berkata Ibnu Jafar bin Muhammad rahimahullah : Marah itu pintu seluruh kejelekan.
Al Imam Ahmad menafsirkan hadits ini dengan mengatakan : akhlak yang mulia itu dengan meninggalkan sifat pemarah.
Al Imam Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan maksud hadits ini dengan mengatakan : sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam : Jangan menjadi pemarah. Ini mengandung dua kemungkinan maksud :
1.Hadits ini mengandung perintah melakukan sebab-sebab yang menjadikan akhlak yang mulia seperti bersikap lembut, pemalu, tidak suka mengganggu, pemaaf, tidak mudah marah.
2.Hadits ini mengandung larangan melakukan hal-hal yang menyebabkan kemarahan, mengandung perintah agar sekuat tenaga menahan marah ketika timbul/berhadapan dengan penyebabnya sehingga dengan demikian dia akan terhindar dari efek negatif sifat pemarah.
Sehingga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mangajarkan cara-cara menghilangkan kemarahan dan cara menghindari efek negatifnya, diantaranya adalah:

1. Membaca taawudz ketika marah.
Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim rahimakumullah meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin Surod Radliyallahu anhu :
Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi Shalallahu alaihi wasallam dan kami sedang duduk di samping Nabi Shalallahu alaihi wasallam . Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai memerah wajahnya. Maka Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan : Audzubillahi minasy Syaithani rrajiim. Maka mereka berkata kepada yang marah tadi : Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan nabi? Dia menjawab : Aku ini bukan orang gila.

2. Dengan duduk
Apabila dengan taawudz kemarahan belum hilang maka disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri.
Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radliyallahu anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.
Hal ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.

3. Tidak bicara
Diam tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain.
Dalam hadits disebutkan :Apabila diantara kalian marah maka diamlah. Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)

4. Berwudlu
Sesungguhnya marah itu dari setan. Dan setan itu diciptakan dari api maka api itu bisa diredam dengan air, demikian juga sifat marah bias diredam dengan berwudlu.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah. (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan)
Adapun pemicu kemarahan ada empat, barangsiapa yang mampu mengendalikan maka Allah Subhanahu wa Taala akan dijaga dari syetan dan diselamatkan dari neraka.
Berkata Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah :
Empat hal, barangsiapa yang mampu mengedalikannya maka Allah akan menjaga dari syetan dan diharomkan dari neraka : yaitu seseorang mampu menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah.
Empat hal ini yaitu keinginan, cemas, syahwat dan marah merupakan pemicu seluruh kejelekan dan kejahatan bagi orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya.
1. Keinginan, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini mendatangkan manfaat pada dirinya, seringnya orang yang tidak mampu menguasai nafsu akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan keinginannya itu dengan segala cara walaupun harus dengan cara harom, dan terkadang yang diinginkan juga berupa sesuatu yang haram.
2. Cemas, adalah rasa takut dari sesuatu. Orang yang cemas akan berupaya untuk menolaknya dengan segala cara walaupun harus dengan cara harom seperti meminta perlindungan kepada selain Allah.
3. Syahwat, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini dapat memuaskan nafsunya. Seringnya orang yang kalah dengan nafsunya memuaskan nafsu syahwatnya itu pada sesuatu yang haram seperti zina, mencuri, minum khamer bahkan pada sesuatu yang menyebabkan kekufuran, kebidahan dan kemunafikan.
4. Marah, adalah gelagaknya darah hati untuk menolak gangguan sebelum terjadi atau untuk membalas gangguan yang sudah terjadi. Kemarahan seringnya dilakukan dalam bentuk perbuatan yang diharamkan seperti pembunuhan, pemukulan dan berbagai kejahatan yang melampaui batas. Terkadang dalam bentuk perkataan yang diharamkan seperti tuduhan palsu, mencela dan perkataan keji lainnya dan terkadang meningkat sampai pada perkataan kufur.
Tetapi tidak semua kemarahan itu tercela, ada yang terpuji , bahkan sampai pada tingkatan harus marah yaitu ketika kita melihat agama Allah direndahkan dan dihinakan, maka kita harus marah karena Allah terhadap pelakunya. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah jika celaan hanya tertuju pada pribadinya dan beliau sangat marah ketika melihat atau mendengar sesuatu yang dibenci Allah maka Beliau tidak diam, beliau marah dan berbicara.
Ketika Nabi Shalallahu alaihi wasallam melihat kelambu rumah Aisyah ada gambar makhluk hidupnya (yaitu gambar kuda bersayap) maka merah wajah Beliau dan bersabda :
Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang membuat gambar seperti gambar ini. (HR. Bukhari Muslim)
Nabi Shalallahu alaihi wasallam juga marah terhadap seorang sahabat yang menjadi imam shalat dan terlalu panjang bacaannya dan beliau memerintahkan untuk meringankannya. Tetapi Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah karena pribadinya.
Al Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Anas radhiyallahu anhu :
Anas membantu rumah tangga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam selama 10 tahun, maka tidak pernah beliau berkata kepada Anas : ah, sama sekali. Beliau tidak berkata terhadap apa yang dikerjakan Anas : mengapa kamu berbuat ini. Dan terhadap apa yang tidak dikerjakan Anas,Tidakkah kamu berbuat begini. (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitulah keadaan beliau senantiasa berada diatas kebenaran baik ketika marah maupun ketika dalam keadaan ridha/tidak marah. Dan demikianlah semestinya setiap kita selalu diatas kebenaran ketika ridha dan ketika marah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : artinya :
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu berbicara yang benar ketika marah dan ridha. (Hadits shahih riwayat Nasai)
Al Imam Ath Thabari rahimahullah meriwayatkan hadits Anas :
Tiga hal termasuk akhlak keimanan yaitu : orang yang jika marah kemarahannya tidak memasukkan ke dalam perkara batil, jika senang maka kesenangannya tidak mengeluarkan dari kebenaran dan jika dia mampu dia tidak melakukan yang tidak semestinya.
Maka wajib bagi setiap muslim menempatkan nafsu amarahnya terhadap apa yang dibolehkan oleh Allah Subhanahu wa Taala, tidak melampaui batas terhadap apa yang dilarang sehingga nafsu dan syahwatnya menyeret kepada kemaksiatan, kemunafikan apalagi sampai kepada kekafiran.
Kesempatan baik ini untuk melatih diri kita menuju sifat kesempurnaan dengan menghilangkan sifat pemarah dan berupaya menjadi orang yang tidak mudah marah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Bukanlah puasa itu sekedar menahan makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu (adalah puasa) dari perbuatan keji dan sia-sia. Apabila ada orang yang mencelamu atau membodohimu maka katakanlah : sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa. (HR. Ibnu Huzaimah dengan sanad shahih)
Wallahu alam bishawab.

(Dikutip dari artikel Keutamaan Menahan Marah, ditulis oleh ustadz Abdurrahim, Malang. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori, Malang dan edit oleh redaksi. Sumber www.darussalaf.or.id)

Posted on hari, 23 Agustus 2008 - 16:02:13 WIB

Related Post :
• Guru Killer apa kata murid, dan apa kata islam?
• Lambang bulan sabit dan bintang mengapa identik dengan Islam
• Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan
• JANGAN MEMBIASAKAN MENJEPIT GAGANG TELEPON
• Teknik Sipil Di Era Keemasan Islam
• Hati-Hati dengan Bahaya Plastik! Pelajari Sebelum Terlambat.
• Mengenali Orang Yang Mendapati Syafaat
• Kisah Imam Ali dan Orang Tua
• Ukhuwah Islamiah
• Sumbangan Al-Ikhwan Al-Muslimun untuk Kemerdekaan RI


Dudayz | 29 Juni 2009 - 17:55:39 WIB

:salam: Ya Begitu amat pentingnya kita menahan amarah di dalam diri ini, karena syaithon dengan segala tipu dayanya akan mencari celah untuk menyesatkan kita. apalagi kan suka ada istilah kalau marah kelakuannya kayak setan mungkin ada benarnya jg karena disaat marah diri kita sudah dikendalikan oleh syaithon. oleh karena itu disaat kita marah hendaknya mengambil air wudhu dan tenangkan diri di tempat yang sunyi (pengalaman peribadi dan Alhamdulillah sangat ampuh) emot ym
Kepiting Rebus | 07 Agustus 2009 - 00:02:44 WIB

Smoga kita bisa terhindar dari godaain setan dan dapat mengendalikan emosi. Sebentar lagi kan bulan puasa.
Aamiin, semoga tetap dalam bimbingan-Nya emot ym ~Ahmed Ridho~
Stop Dreaming Start Action | 26 Agustus 2009 - 16:33:41 WIB

lagi bulan puasa, penting nih yang namanya menahan amarah
Rara Wulan | 12 Desember 2009 - 10:02:02 WIB

tips yang bagus maz..
saya sangat terbantu sekali soalnya saya sering marah, dan saya mencoba untuk selalu diam saat saya lagi marah memang cara itu sangat ampuh maz, dengan diam saat marah kemarahan saya sedikit demi sedkit hilang..
thanks buat info dan tipsnya emot ym
tes tanda kehamilan | 20 Januari 2010 - 11:49:34 WIB

ass wr wb.. sy jg sudah berusaha mengikuti apa yang dibilang rasuulullah, menahan marah dgn cara diam dan berwudlu.. tp msh susah untuk mengontrolnya. mdh2an nti bisa lbh baik..
Fatma snow | 01 Februari 2010 - 08:48:52 WIB

Marah memang menunjukkan kebodohan. . . . . . . . .

<a href="http://fatma-snow.blogspot.com/" rel="dofollow">PUSAT SEGALA TIPS DAN TRICK</a>
best buy dvds | 24 Februari 2010 - 12:10:42 WIB

walaupun kita tau efek dari keburukan marah tetapi kenyataannya kita sangat sulit menahan emosi, apalagi kalo dijalan raya, udah naik motor, trus macet, panas, udara kotor, eh dipepet lagi,rasanya sulit banget nahan emosi klo kondisi seperti ini.
tonbad | 23 April 2010 - 12:28:18 WIB

orang kuat adalah orang yang bisa menahan amarahnya,,, thanks for share
rinto | 26 Juli 2010 - 10:18:53 WIB

klo masalah macet sih udah gak mempan bikin saya marah, kcuali klo lagi ada yg super urgent. yg gak bisa saya tahan adalah amarah sama orang yg super duper nyebelin.. harus benar2 usaha biar gak ngedamprat...

-- visit http://m.rujakasik.com --
ismartono | 28 September 2010 - 05:11:03 WIB

islam begitu kompelet ,tanpa cela bagi mereka yg berfikir
keyy | 22 November 2010 - 22:32:52 WIB

ehhmm... Keyen artikelnya..
bintang | 21 Januari 2011 - 23:01:57 WIB

amarah adalah manusiawi,,,,tapi bukan berarti kita bisa di perbudak oleh amarah,,,
artikelnya keren,,,terima kasih
l | 16 April 2011 - 23:15:42 WIB

trimakasih tulisannya. selama ini aku mudah sekali marah.mulai sekarang aku akan berusaha tidak marah-marah lagi. karena amat negatiif bagi kehidupan kita
prattomo | 30 Desember 2011 - 09:51:54 WIB

terimakaih bnyk mas atas infonya, semoga sya bisa mengedalikan marah saya
prattomo | 30 Desember 2011 - 09:52:33 WIB

terimakaih bnyk mas atas infonya, semoga sya bisa mengedalikan marah saya
win | 24 April 2012 - 03:30:14 WIB

thanks for the article.
Obat Jantung | 03 Mei 2012 - 07:05:00 WIB

Menahan marah ternyata membuat diri kita lebih kuat dan bugar karena ketika kemarahan dilampiaskan secara tidak terkendali maka pikiran akan menjadi kalut,berbicara di luar kontrol sehingga keluarlah kata kata yang tidak pantas yang kemudian menimbulkan penyesalan setelah amarah reda, batang otak akan menegang sehingga timbul kekakuan di leher, bahu dan kepala, hormon adrenalin akan banyak disekresikan (dikeluarkan) ke dalam darah yang dapat menimbulkan komplikasi penyakit pada organ jantung,hati dan limpa.
Patmi | 28 Agustus 2013 - 22:23:13 WIB

Alhmdllh manfaat ilmunya mtr nwn www
peter | 05 September 2013 - 12:40:36 WIB

wah,bsa lngsung di praktekan cara ini,mudah2an bsa jdi pribadi yg lebih baik lagi dengan menerapkan cara diatas
nafri | 26 Desember 2013 - 19:40:59 WIB

Saya dapat masukan dari teman bahwa untuk meredam rasa marah mari menghindari merasa/rumongso dalam bahssa jawa merasa apapun, kalau sdh bisa dan yerbiasa akan nikmay rasanya terbrbas dari marah

Respond to this post

(required)
(will not be published) (required)
captcha bagus
(required)